Pages

Monday, June 3, 2013

About Coping with SBMPTN in My Own Way

Sejak dimulainya status pengangguran kita, saya sering ditanyai masalah jurusan oleh kawan-kawan. Kebanyakan pertanyaannya semacam, "Pilihan satuku mau ini. Lalu pilihan kedua dan ketiganya bagaimana ya?". Mereka menanyakan pilihan kedua dan ketiga yang tepat. Namun kali ini, saya tidak hendak membahas masalah pilihan jurusan. Sudah mepet, jadinya tulisan kali ini tentang apa yang dilakukan menjelang SBMPTN dua minggu mendatang.

Nah, untuk memulainya, saya bicarakan masalah pilihan jurusan dulu #eaaaa #labil haha. Bukan maksud tidak konsisten, melainkan tetap membahas sedikit masalah pilihan jurusan. Sedikit saja. Sesuai paragraf di atas, kebanyakan teman-teman menanyakan apakah mereka sudah cukup tepat memilih pilihan kedua dan ketiga untuk pilihan jurusan dan universitas pada tes SBMPTN. Yang perlu sedikit saya tekankan adalah, pilihan kedua dan ketiga itu bukan pilihan. Yang kita inginkan adalah pilihan pertama. Jadi, tak perlu terlalu fokus, ke arah sana. Seadanya saja, cukup jurusan yang kita bisa terima dengan ikhlas. Sehingga akan berujung pada fokus diri untuk pilihan pertama. Saya sendiri hanya memilih satu pilihan. Tidak ada yang kedua dan ketiga. Ke-pede-an? Mungkin. Namun, bagi saya itu adalah salah satu paksaan agar saya belajar ekstra keras. Saya tidak mau hanya berakhir dengan gelar "Calon Mahasiswa" saja. Kita ingin punya sebutan "Mahasiswa Baru", bukan? Untuk teman-teman, saya tetap menyarankan untuk memilih pilihan kedua (It is your right to have the second choice. So, why don't You take it? :D). Hanya saja, perlu dipastikan untuk meniatkan diri berjuang demi pilihan pertama. Sekali lagi, tidak ada pilihan kedua dan ketiga. Layaknya kompetisi, hanya ada satu juara satu. Sisanya, mungkin peringkat dua, tetapi bukan juara satu. Mohon pertimbangkan fokus belajar teman-teman.

Selanjutnya baru bahasan utama saya di artikel kali ini. Tinggal dua minggu. Ada yang ikut bimbel macam-macam. Mudah-mudahan bisa bermanfaat maksimal dalam dua minggu ini dalam bimbelnya. Sayangnya saya tidak ikut. Dan pilihan untuk memperjuangkan kesempatan kuliah bagi saya, hanya bisa melalui belajar mandiri.

Saturday, May 4, 2013

The Affable Early Bird: Memulai Lebih Baik untuk Alasan yang Lebih Baik


"To make cleanliness commonplace; to lessen work for women; to foster health and contribute to personal attractiveness, that life may be more enjoyable and rewarding for the people who use our products" -Unilever-

Saat pikiran untuk menulis artikel ini dimulai, saya sedang memerhatikan teman saya membuat makan malam di atas Gunung Gede. Ia menambahkan kecap Bango ke dalam campuran nasi dan kornet, santapan kami malam itu. Saya tak pernah berpikir sebelumnya bahwa salah satu merk kecap terkenal di Indonesia itu berada di bawah bendera perusahaan asal Belanda.

Dalam rangka mencari bahan untuk tulisan ini, saya pun menemukan bahwa Unilever memiliki ratusan merk dagang dan sebagian diantaranya menjadi perbekalan saya menaiki Gunung Gede. Belum lagi produk-produk perawatan tubuh seperti Rexona (tentunya selalu saya bawa berkelana), sabun dan shampo Lifebuoy. Bayangkan, produk-produk milik salah satu perseroan terbesar di Belanda itu yang menemani kami ke puncak Gunung Gede.

Akhirnya, turun dari puncak tersebut, saya pun mulai riset kecil-kecilan mengenai Unilever dan perusahaan-perusahaan pionir di Belanda yang telah mengglobal.

Friday, April 19, 2013

Your Last Days, Senior~

Sebenarnya, kalau dibuat-buat, saya punya banyak alasan kenapa tidak  menulis dalam kurun beberapa bulan terakhir. Bisa saja karena tidak ada waktu, ujian-ujian yang merepet, hambatan fasilitas dan sebagainya. Padahal beragam momentum yang sangat enak dinikmati terjadi di paruh pertama tahun 2013 ini. Karena tidak mau banyak beralasan, saya hanya belum menulis lagi saja, bukan karena apa-apa, hanya karena diri saya pribadi. Namun kali ini rasanya, ada yang ingin saya bagi saja untuk kawan-kawan semua.

Masih ada cerita tentang perjalanan saya dan kawan-kawan ke Dieng juga, tetapi mungkin cerita itu ditunda dulu saja. Karena yang bermain-main di kepala saya terlampau lebih banyak dan beberapa lebih mendesak: wisuda, buku tahunan (ini paling menguras pikiran #eh #curcol), PTN untuk Foranza, studi kolaboratif, satu setengah bulan di IC, dan hal-hal angkatan-sentris lainnya.

Friday, January 4, 2013

Bagaimana Kabar Rencana Masa Depan Anda?

Oke, baik, saya memang terkesan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menulis hal-hal kurang penting begini ya, ahahaha. Mau bagaimana lagi, mumpung teringat dan ada ide sama malas mengerjakan tugas juga sih.

Saya senang berharap. Mungkin beberapa dari Anda juga. Bagi saya, harapan, impian (atau istilah sejenisnya) adalah batu pijakan untuk masa depan, minimal rancangannya lah. Apa yang kita harapkan untuk bisa diraih di masa depan, umumnya menjadi titik tolak pemilihan berbagai keputusan kita sekarang. Ruang lingkupnya saya perjelas lagi, yaitu, memilih kuliah secara dengan pertimbangan holistik dilakukan dalam rangka pencapain harapan kita di masa depan.

Yang akan saya bicarakan kali ini bukan mengenai pengaruh pilihan terhadap masa depan tersebut, tapi fokus dulu ke pilihannya. Berbekal pengetahuan dasar pelajaran bahasa Indonesia (yang nilai saya benar-benar cupu), coba dibedah apa, mengapa, bagaimana, kapan dan dimananya baik-baik.

Sunday, December 30, 2012

Where I Should Come Back to: Japan

Dan, akhirnya setelah berbulan-bulan stuck tidak memulai menulis tentang perjalanan ke Jepang pada pertengahan tahun ini, saya pun mulai sadar bahwa saya punya utang cerita pada kawan-kawan (sebenarnya pada beberapa saja sih, haha). Berbekal mengorek-ngorek ingatan yang ada dan dokumentasi perjalanan seadanya, saya memulai mengetik dengan harapan tidak ada data yang salah atau tidak sesuai, haha.

Pada awal bulan Juli 2012, saya dan tiga orang kawan dari MAN ICS mengikuti Summer Camp yang diselenggarakan oleh Ritsumeikan Asia Pacific Unviversity (APU). Sebagai pembuka saja, kegiatan ini tidak gratis, tetap ada beberapa biaya yang harus dibayarkan seperti tiket pesawat, visa, dan akomodasi di Jepang. Namun bedanya, akomodasi yang perlu dibayarkan cenderung lebih murah, ditambah beberapa kegiatan yang dibuat yang tidak hanya terdiri dari wisata semata.

Agar lebih mudah mengikuti alur perjalanannya, saya akan menceritakan kegiatan secara runtut jadwal (insyaAllah tidak lupa -__-")